Di banyak pesantren di Indonesia, tradisi lalaran nadhom menjadi salah satu metode belajar yang diwariskan turun-temurun. Lalaran adalah kegiatan membaca atau melantunkan nadhom secara berulang hingga hafal. Nadhom sendiri adalah syair berbahasa Arab yang berisi pelajaran ilmu alat, fikih, akhlak, hingga tauhid. Tradisi ini bukan hanya cara menghafal, tetapi juga sarana membentuk karakter dan kedisiplinan santri.
Artikel ini akan membahas secara lengkap manfaat, proses, serta mengapa lalaran tetap relevan dalam pendidikan modern.
Apa Itu Tradisi Lalaran Nadhom?
Pengertian Lalaran dalam Pesantren
Lalaran adalah metode hafalan dengan melafalkan teks secara berulang. Tradisi ini biasa dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan belajar, terkadang dipimpin guru, terkadang dilakukan mandiri oleh santri.
Fungsi dan Tujuan Utama
Tradisi lalaran nadhom bertujuan:
Menguatkan hafalan materi pelajaran
Menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu
Melatih konsistensi dan kedisiplinan
Memperdalam pemahaman bahasa Arab
Tradisi ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren tradisional hingga modern.
Manfaat Tradisi Lalaran Nadhom bagi Santri
Memudahkan Santri Menghafal Ilmu Alat
Banyak nadhom mengandung ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah. Dengan lalaran, santri menghafal kaidah bahasa Arab secara natural. Ini sangat membantu saat mempelajari kitab kuning yang membutuhkan kemampuan bahasa yang kuat.
Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi
Aktivitas membaca secara berulang melatih otak untuk tetap fokus. Santri terbiasa berkonsentrasi lebih lama, yang bermanfaat juga dalam pembacaan kitab dan pelajaran lainnya.
Menumbuhkan Kebiasaan Belajar Kolektif
Lalaran sering dilakukan bersama-sama sehingga menciptakan suasana belajar kolektif. Kebiasaan ini mendorong rasa kebersamaan dan semangat saling membantu.
Penerapan Tradisi Lalaran Nadhom dalam Kurikulum Pesantren
Lalaran pada Jam Belajar Harian
Banyak pesantren memulai kelas dengan lalaran nadhom, misalnya Imriti, Jurumiyah, atau Alfiyah. Ini menjadi pemanasan sebelum memulai pelajaran utama.
Lalaran Mandiri pada Waktu Senggang
Santri biasanya melalaran setelah jamaah subuh atau sebelum tidur malam. Rutinitas sederhana ini membantu hafalan lebih cepat melekat.
Penggunaan Irama untuk Mempermudah Hafalan
Irama khas pesantren membuat lalaran lebih mudah diingat. Melalui ritme khusus, santri dapat menghafal hingga puluhan bait tanpa merasa terbebani.
Jenis-Jenis Nadhom yang Sering Dilalaran
Nadhom Imriti dan Jurumiyah
Dua kitab nadhom ini menjadi fondasi utama dalam belajar nahwu. Santri yang hafal nadhom ini akan lebih mudah memahami struktur bahasa Arab.
Nadhom Alfiyah Ibnu Malik
Alfiyah berisi seribu bait kaidah nahwu. Lalaran Alfiyah dilakukan oleh santri tingkat lanjutan untuk memperdalam pemahaman bahasa Arab.
Nadhom Akhlak dan Adab
Beberapa pesantren juga melalaran nadhom tentang akhlak, adab pada guru, dan tata cara mencari ilmu. Ini membentuk kepribadian santri secara menyeluruh.
Nilai Pendidikan dalam Tradisi Lalaran Nadhom
Melatih Disiplin dan Ketekunan
Santri yang terbiasa lalaran memiliki disiplin belajar yang kuat. Kegiatan ini mengajarkan bahwa proses belajar tidak bisa instan dan membutuhkan konsistensi.
Menguatkan Memori Jangka Panjang
Pengulangan adalah metode paling efektif dalam pembentukan memori jangka panjang. Hafalan nadhom akan tetap melekat hingga santri dewasa karena dilatih setiap hari.
Mengajarkan Kesabaran dan Ketelatenan
Lalaran bukan hanya melatih hafalan, tetapi juga kesabaran. Bait demi bait perlu diulang berkali-kali hingga benar-benar melekat.
Relevansi Tradisi Lalaran di Era Modern
Mendukung Pembelajaran Bahasa Arab
Meskipun teknologi berkembang pesat, pembelajaran bahasa tetap membutuhkan hafalan, terutama dalam memahami struktur gramatikal Arab. Lalaran menjadi metode efektif hingga hari ini.
Meningkatkan Kemampuan Public Speaking
Irama dan lantunan dalam lalaran melatih artikulasi santri. Kemampuan ini berguna dalam dakwah dan presentasi keagamaan.
Memperkaya Pembentukan Karakter
Lalaran mengajarkan nilai-nilai spiritual, adab, kesungguhan, dan kebersamaan. Nilai ini relevan di era digital yang sering membuat generasi muda kurang disiplin.
Bagaimana Teknologi Mendukung Tradisi Lalaran?
Tradisi lalaran bisa berjalan lebih efektif dengan dukungan sistem digital pesantren seperti Siskesakti.
Manajemen Jadwal Kegiatan Santri
Siskesakti membantu pesantren mengatur jadwal lalaran harian, evaluasi hafalan, dan dokumentasi perkembangan santri.
Pemantauan Perkembangan Hafalan
Guru dapat melihat progres hafalan santri melalui sistem yang terintegrasi sehingga lebih mudah memberikan bimbingan.
Memperkuat Koordinasi dengan Wali Santri
Orang tua dapat mengetahui aktivitas dan kegiatan lalaran anak mereka melalui laporan digital yang rapi dan terpercaya.
Baca Juga : Pembentukan Karakter Santri untuk Menjadi Generasi Berakhlak
Kesimpulan
Tradisi lalaran nadhom bukan hanya metode hafalan, tetapi sarana membentuk karakter, melatih disiplin, serta menguatkan kemampuan bahasa Arab. Meskipun terlihat sederhana, tradisi ini memiliki dampak besar dalam membentuk santri yang kuat secara intelektual maupun spiritual.
Agar pesantren semakin terstruktur dalam mengelola kegiatan seperti lalaran, kini saatnya beralih ke sistem modern.
Bergabunglah dengan Siskesakti di www.siskesakti.com untuk mendukung pembelajaran santri yang lebih tertib, mudah dipantau, dan profesional.



